RSS

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN SCABIES DAN PEDIKULOSIS



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Parasit adalah organisme yang hidup dari makhluk hidup lainnya. Manusia adalah tuan rumah bagi banyak parasit, yang dapat hidup di dalam tubuh atau pada kulit. Parasit ini menggunakan tubuh manusia untuk mendapatkan makanan dan untuk mereproduksi, dan dalam tawar-menawar menyebabkan masalah kesehatan manusia yang terinfeksi. parasit terdapat di seluruh dunia dan banyak orang menderita infeksi parasit kulit. Sebagai contoh, sekitar 6 untuk 12 juta orang di seluruh dunia mendapatkan kutu setiap tahun dan di Amerika Serikat. Banyak penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit contohnya yaitu skabies dan pedicolosis.
Skabies adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh kuman sarcotes scabie yaitu seperti tungau yang memparasitkan diri pada kulit manusia  yang mengakibatkan rasa gatal pada kulit dan menimbulkan papul, vesikel bahkan menyebabkan ulkus dan erosi pada kulit.
Insidensnya di Indonesia masih cukup tinggi, terendah di Sulawesi Utara dan tertinggi di Jawa Barat. Amiruddin dkk., dalam penelitian skabies di Rumah Sakir Dr. Soetomo Surabaya, menunjukkan insidens penderita skabies selama 2008-2010 adalah 2,7%. Abu A dalam penelitiannya di RSU Dadi Ujung Pandang mendapatkan insidens skabies 0,6%  pada tahun 1995-1998.
Pedicolosis adalah penyakit yang juga disebabakan oleh parasit obligat pediculus humanis yang menyerang pada kulit badan, kulit kepala, rambut dan daerah pubis.
Persentase penderita pediculus di Indonesia 20% pada tahun 2002-2009 dalam penelitian pediculosis di rumah sakit Dr.Soetomo Surabaya menunjukan penderita pediculosis 0,5% pada tahun 1999-2003.
Perawat merupakan bagian dari tim kesehatan yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan intervensi kepada pasien, sehingga fungsi dan peran perawat dapat dimaksimalkan dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap penderita seperti memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesehatan fisik, perawat juga dapat melakukan pendekatan spiritual, psikologis dan mengaplikasikan fungsi edukatornya dengan memberikan penyuluhan kesehatan terhadap penderita sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga yang nantinya diharapkan dapat meminimalisir resiko maupun komplikasi yang mungkin muncul dari skabies dan pediculosis tersebut.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat materi skabies dan pediculosis  dalam penulisan makalah ilmiah.

1.2  Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep dasar penyakit dan asuhan keperawatan pada pasien dengan skabies dan pediculosis
2.      Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini, yaitu :
a.      Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pengertian skabies dan pediculosis  
b.      Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami penyebab skabies dan pediculosis
c.       Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami  diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul pada pasien skabies dan pediculosis
d.      Mahasiswa mampu mengetahui dan  memahami penatalaksanaan pada pasien dengan skabies dan pediculosis

1.3  Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode diskritip melalui pendekatan studi kasus yang meliputi pengumpulan data, analisa data, dan menarik kesimpulan. Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari buku-buku dan sumber-sumber lain (internet) yang berhubungan dengan judul dan permasalahan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1  Mekanisme Infeksi Parasitik Pada Kulit
Penyakit kulit parasit pada manusia yang sangat umum. Mereka umumnya dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu sebagai berikut :
1.      Infeksi kulit yang disebabkan oleh parasit protozoa
Protozoa adalah parasit yang paling menonjol menginfeksi manusia. Ada beberapa spesies parasit protozoa yang menginfeksi manusia dan menyebabkan infeksi kulit yang parah. Paling menonjol di antara ini adalah parasit yang disebut sebagai tropica Leishmania yang menyebabkan leishmaniasis atau Kala Azar. Lain infeksi protozoa penting adalah Trypanosomiasis, juga dikenal sebagai penyakit Chagas atau penyakit tidur. Penyakit ini disebabkan sebagai akibat infeksi dengan cruzi Evansi. Toksoplasmosis adalah satu lagi infeksi kulit yang disebabkan oleh parasit protozoa yang gonadii yaitu Toxoplasma. Dalam semua infeksi, parasit yang ditularkan kepada manusia melalui lalat. gejala penting termasuk gatal ekstrim dan tampilan nodul yang mendapatkan ulserasi dalam beberapa bulan.
2.      Infeksi kulit yang disebabkan oleh tungau
Kelompok lainnya penting dari parasit yang menginfeksi manusia dan menyebabkan infeksi kulit tungau. terkenal infeksi kulit yang disebabkan akibat infestations tungau ke dalam kulit manusia termasuk kudis, gatal butir, gatal tungau Chiggers ', tikus kutu gatal, gatal toko kelontong itu, Trombidosis.
3.      Infeksi kulit yang disebabkan oleh agen yang lain
Terlepas dari protozoa dan tungau, ada juga agen lain yang mampu menyebabkan infeksi kulit pada manusia. Ini termasuk kutu, kutu, kutu busuk dan nematoda. Semua ini adalah parasit yang memakan darah manusia. Menonjol Beberapa penyakit yang disebabkan oleh agen termasuk Pediculosis (yang disebabkan oleh kutu), Cimicosis (reaksi kulit kronis yang disebabkan oleh gigitan kutu busuk), Pulicosis (yang disebabkan oleh karena bekas gigitan kutu), Culicosis (yang disebabkan karena gigitan nyamuk) dan merambat letusan (penyakit yang disebabkan akibat infeksi seperti nematoda Ancylostoma, Ascaris dan cacing tambang).

Jenis Parasit Kulit Manusia:
1.      Kutu kepala, juga dikenal sebagai humanus capitis Pediculus medis, adalah berkaki enam parasit yang hidup di kulit kepala. Berbaring kutu putih telur dikenal sebagai nits, yang menetas di sekitar 7 hari menjadi peri. Peri pada gilirannya tumbuh menjadi kutu dewasa dalam 7 hari lain. Kutu hidup yang mereka menyedot darah dari kulit kepala. Sebagai gigitan kutu kulit kepala, hal itu menyebabkan gatal-gatal dan hal ini dapat menyebabkan luka karena orang yang terinfeksi akan goresan di mana kulit kepala yang gatal.
2.      Kutu kemaluan, medis dikenal sebagai Phthirus pubis, mirip dengan kutu kepala tetapi parasit ini hidup di rambut kemaluan. Kadang-kadang, mereka diketahui menginfeksi janggut, bulu mata, alis, dan rambut di ketiak. Mereka lebih sering disebut sebagai kepiting karena mereka terlihat sangat mirip dengan mereka. Kemaluan kutu menyebabkan gatal-gatal yang parah, yang lebih nyata pada malam hari sejak kutu menguburkan kepala mereka ke folikel rambut untuk memberi makan.
3.      Kudis ini disebabkan karena tungau, yang secara medis dikenal sebagai Sarcoptes scabiei. Tungau liang yang dangkal di bawah kulit untuk meletakkan telur dan pakan. Kudis infeksi menyebabkan benjolan merah di kulit yang tampak seperti jerawat. Kadang-kadang lubang dapat dilihat sebagai garis bergelombang. Kudis terjadi lebih umum antara lipatan kulit seperti anyaman antara jari-jari, di dalam siku atau di belakang lutut.
4.      Chiggers juga tungau yang hidup di gulma dan rumput tinggi. Larva pegangan ke rambut tubuh manusia dengan cakar dan kemudian melampirkan diri pada kulit. Sini mereka memakan sel-sel kulit. Parah Chiggers menyebabkan gatal dan ruam kulit.
Parasit mengevasi imunitas protektif dengan mengurangi imunogenisitas dan menghambat respon imun host. Parasit yang berbeda menyebabkan imunitas pertahanan yang berbeda.
1.      Parasit mengubah permukaan antigen mereka selama siklus hidup dalam host vertebrata. Dua bentuk variasi antigenik:
a.       Stage-specific change dalam ekspresi antigen, misalnya antigen stadium sporosit pada malaria berbeda dengan antigen merozoit.
b.      Adanya variasi lanjutan antigen permukaan mayor pada parasit, misalnya yang terlihat pada Trypanosoma Afrika: Trypanosoma brucei dan Trypanosoma rhodensiensi. Adanya variasi lanjutan kemungkinan karena variasi terprogram dalam ekspresi gen yang mengkode antigen permukaan mayor.
2.      Parasit menjadi resisten terhadap mekanisme efektor imun selama berada dalam host. Misalnya larva Schistosomae yang berpindah ke paru-paru host dan selama migrasi membentuk tegumen yang resisten terhadap kerusakan oleh komplemen dan CTLs.
3.      Parasit protozoa dapat bersembunyi dari sistem imun dengan hidup di dalam sel host atau membentuk kista yang resisten terhadap efektor imun. Parasit dapat menyembunyikan mantel antigeniknya secara spontan ataupun setelah terikat pada antibodi spesifik.
4.      Parasit menghambat respon imun dengan berbagai mekanisme untuk masing-masing parasit. Misalnya Leishmania menstimulus perkembangan CD25 sel T regulator, yang menekan respon imun. Contoh lain pada malaria dan Tripanosomiasis yang menunjukkan imunosupresi non spesifik. Defisiensi imun menyebabkan produksi sitokin imunosupresi oleh makrofag dan sel T aktif serta mengganggu aktivasi sel T.



2.2  Konsep Dasar Penyakit Skabies
Pengetahuan dasar tentang penyakit ini di prakarsai oleh VON HEBRA, bapak dermatologi modern. Penyebabnya ditemukan pertama kali oleh BENOMO pada tahun 1687, kemudian oleh MELLANBY dilakukan percobaan induksi pada sukalerawan selama perang dunia II.
1.      Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi (kepekaan) terhadap Sarcoptes scabiei var. Humini.s (Adhi Djuanda. 2007)
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) yang mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyebabnya scabies adalah Sarcoptes scabiei (Isa Ma'rufi, Soedjajadi K, Hari B N, 2005)
Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart, 1997)
Jadi menurut kelompok scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi kuman parasitik (Sarcoptes scabiei) yang mudah menular manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan yang ada dimuka bumi ini.

2.      Etiologi
Scabies disebabkan oleh kutu atau kuman sarcoptes scabei. Secara morfologik sarcoptes scabei merupakan tungau kecil berbentuk oval punggungnya cembung dan bagian perutnya rata berwarna putih kotor dan tidak memiliki mata. Sarcoptes betina yang berada di lapisan kulit stratum corneum dan lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di dalam terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat telur tersebut menetas menjadi hypopi yakni sarcoptes muda. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal.(Keperawatan Medikal Bedah, 2002)
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scbiei var. hominis. Kecuali itu terdapat S. Scabiei yang lain, misalnya kambing dan babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna puith kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat, dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi diatas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 mm sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.
Faktor resiko dari skabies ini adalah :
a.       Skabies pada bayi dan anak
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi terdapat di muka.
b.      Skabies yang ditularkan oleh hewan
Sarcoptes scabiei varian canis dapat menyerang manusia yang pekerjaanya berhubungan erat dengan hewan tersebut. Misalnya peternak dan gembala. Gejalanya ringan, rasa gatal kurang, tidak timbul terowongan, lesi terutama terdapat pada tempat-tempat kontak. Dan akan sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi bersih-bersih.
c.       Skabies inkognito
Obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda skabies, sementara infestasi tetap ada. Sebaliknya, pengobatan dengan steroid toikal yang lama dapat menyebabkan lesi bertambah hebat. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena penurunan respon imun seluler.
d.      Skabies terbaring di tempat tidur (bed ridden)
Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal di tempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.
Cara penularan (transmisi) :
a.    Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual.
b.    Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain.
Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atai kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya anjing.

3.      Patofisiologi
Kelainan kulit disebabkan tungau skabies dan garukan gatal akibat sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau kurang lebih sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dll. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoiriasi, krusta dan infeksi sekunder


Agen

Transmitter


     Kontak langsung

kontak tidak langsung

host



Membentuk kanakuli  (terowongan)


Sela jari,tangan,siku, pergelangan tangan


Sensitivitas terhadap secret


Gangguan body image


Timbul papul, vesikel, urtika                      


Gatal


Gangguan Pola tidur


Klien menggaruk


Ulkus, erosi, ekkovarasi


Resiko Infeksi






Kerusakan Integritas Kulit


Skema Patofisiologi Skabies 2.1



4.      Manifesati Klinis
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardial berikut ini :
a.       Pruritus (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
b.      Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang tungau tersebut.
c.       Kunikulus (adanya terowongan) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorfi (pustula, ekskoriasi, dll). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum korneum tipis, yaitu sela-sela jari tangan, peregelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipatan ketiak bagian depan, areola mammae (wanita) dan lipatan glutea, umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan kulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
d.      Terdapat agen parasitik satu atau lebih stadium hidup agen parasitik ini, merupakan hal yang paling diagnostik.
Pada pasien yang menjaga hygiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadangkala sangat sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi, impetigo, da furunkulosis.

5.      Diagnosis Banding
Ada pendapat mengatakan penyakti skabies ini merupakan the great immator karena dapat menyerupai penyakit kulit dengan keluhan gatal. Sebagai diagnosis banding ialah : pitriaris rosea, tinea versikolor, pedikulosis korporis, prurigo, dermatitis, liken planus dan berbagai penyakit kulit lainnya dengan keluhan gatal.

6.      Komplikasi
Bila skabies tidak di obati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul
a.       Dermatitis akibat garukan
b.      Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, selulitis, limfangitis, folikulitis, dan furunkel.
c.       Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang skabies dapat menimbul komplikasi pada ginjal, yaitu glomerulonefritis.
d.      Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat antiskabies yang berlebihan, baik pada terapi awal atau dari pemakaian yang terlalu sering.

7.      Penatalaksanaan
Pencegahan skabies dapat dilakukan dengan berbagai cara:
a.       Mencuci bersih, bahkan sebagian ahli menganjurkan dengan cara direbus, handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering.
b.      Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.
c.       Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan.
d.      Mandi dengan air hangat dan sabun untuk menghilangkan sisa-sisa kulit yang mengelupas dan kemudian kulit dibiarkan kering.
e.       Gunakan pakaian dan sprei yang bersih, semua perangkat tidur, handuk dan pakaian yang habis dipakai harus dicuci dengan air yang sangat panas kalau perlu direbus dan dikeringkan dengan alat pengering panas.
f.       Cegah datangnya lagi skabies dengan menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat, ruangan jangan terlalu lembab dan harus terkena sinar matahari serta menjaga kebersihan diri anggota keluarga dengan baik.
Jika pencegahan tidak dilakukan dengan baik dan efektif, maka dapat dilakukan penatalakasanaan.
Syarat obat yang ideal ialah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan murah. Cara pengobatannya ialah seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk penderita yang hiposesitisasi).
Jenis obat topikal:
a.       Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20 % dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman efektif. Kekurangannya ialah pemakaian tidak boleh kurang dari tiga hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian, dan dapat menimbulkan iritasi.
b.      Emulsi benzil-benzoat 20-25 % efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang semakin gatal setelah dipakai.
c.       Gama benzena heksaklorida (gameksan=gammexane) 1 % dalam bentuk krim atau losio tidak berbau dan tidak berwarna, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stdium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Pemberiannya hanya cukupt sekali setiap 8 jam. Jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian. Pengguanaan yang berlebihan dapat menimbulkan efek pada sistem saraf pusat. Pada bayi dan anak-anak jika digunakan berlebihan , dapat menimbulkan neurotoksisitas. Obat ini tidak aman digunaka untuk ibu menyusui dan wanita hamil.
d.      Benzilbenzoat (krotamiton) Tersedia 10 % dan 25% dalam krim atau losio mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim (eurax) hanya efektif pada 50-60 % pasien. Digunakan selama 2 malam beruturut-turut dan dibersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir, kemudian digunakan lagi 1 minggu kemudian. Obat ini disapukan ke badan dari leher ke bawah. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan iritasi. Bila digunakan untuk bayi dan anak-anak harus di tambahkan air 2-3 bagian.
e.       Permethrin. Dalam bentuk krim 5 % sebagai dosis tunggal. Pengguanaanya selama 8-12 jam dan kemudian dicuci bersih-bersih. Merupakan obat yang paling efektif dan aman karena sangat mematikan untuk parasit S. Scabiei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia. Pengobatan pada skabies krustosa sama dengan skabies klasik, hanya perlu ditambahkan salep keratolitik. Skabies subungual susah diobati. Bila didapatkan infeksi sekunder perlu diberikan antibiotik sistemik.

8.      Progonsis
Dengan memperhatikan pemilihan dan pemakaian obat, syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dengan memberi prognosis yang baik.

2.3  Konsep Dasar Penyakit Pedikulosis
Pedikulosis adalah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculus tergolong famili Pediculidae (Ronnny P Handoko). Sedangkan menurut Brunner & Suddart, 2002 pedikulosis adalah infeksi kutu yang mengenai kepala, badan, dan pubis, mengenai daerah-daerah yang berambut. Dan menurut Arif Monsjoer, 2002 Pedikulosis adalah infeksi kulit dan rambut pada manusia yang disebabkan oleh parasit obligat pediculus humanis.
Jadi, dapat disimpulkan pengertian pedikulosis yaitu infeksi yang terjadi pada kulit manusia baik itu kulit badan, kulit kepala dan kepala serta pada daerah pubis yang disebabkan oleh parasit obligat pediculus humanis. Dan pedikulosis terdiri dari kapitis, korporis, dan pubis.

1.      Pedikulosis Kapitis.
Pedicolosis kapitis merupakan infestasi kutu kepala atau tuma yang disebut pediculls humanus capitis pada kulit kepala. Tuma betina akan meletakkan telur-telurnya ( nits ) didekat kulit kepala. Telur ini akan melekat erat pada batang rambut dengan suatu subtansi yang liat. Telur akan menetas menjadi tuma muda dalam waktu sekitar 10 hari dan mencapai maturitasnya dalam tempo 2 minngu.
Penyakit ini terutama menyerang anak usia muda dan cepat meluas dalam lungkungan hidup yang padat, misalnya di asrama dan panti asuhan. Cara penularannya biasanya melalui perantara benda, misalnya sisir, bantal, kasur, topi, dan lain-lain. Tambahan pula dalam kondisi hygiene kurang baik, misalnya jarang membersihkan rambut atau rembut yang relatif susah dibersihkan (seperti rambut yang panjang dan tebal pada wanita). 
             
a.      Etiologi
Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan menjadi kemerahan  jika sudah menghisap darah. Terdapat 2 jenis kelamin jantan dan betina, yang betina ukuran panjang 1,2-3,2 mm dan lebarnya lebih kurang ½ panjangnya, jantan lebih kecil dan jumlahnya lebih sedikit dibanding betina.
Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Telur (nits) diletakkan disepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut, yang berarti makin ke ujung terdapat telur yang matang.

b.      Patofisiologi.
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilang kan rasa gatal. Gatal tersebut timbuk karena pengaruh liur dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit waktu menghisap darah. Patofisiologi dapat dilihat pada skema 2.2


pediculus humanus var capitis


 
menyerab kulit kepala

pediculus humanus var capitis betina menetaskan telurnya
 

telur melekat pada rambut


 
menetas dalam 2 minggu
 

pediculus humanus var capitis muda


 
menghisap dan menggigit kulit kepala


 
gatal


 
Gangguan rasa nyaman


 
klien menggaruk kulit


 
 ulkus, erosi ekskovrasi


 
Kerusakan integritas kulit


 
Risiko tinggi infeksi



Skema Patofisiologi Pedikulosis 2.2

c.       Manifestasi Klinis.
Gejala awal berupa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serata dapat meluas ke seluruh kepala. Kemudian karena garukan, terjadi erosi, ekskoirasi, dan infeksi sekunder (pus, krusta). Bila infeksi sekunder berat, rambut akan bergumpal akibat banyaknya pus dan krusta (plikapelonika), berbau busuk, disertai pembesaran kelenjar getah bening regional (oksiput dan retroaurikular).

d.      Pemeriksaan Penunjang.
Diagnosis pasti adalah menemukan kutu atau telur, terutama dicari di daerah oksiput dan temporal. Telur berwarna abu-abu dan berkilat.
e.       Diagnosis Banding
1.      Tinea Kapitis.
2.      Pioderma (Impetigo krustosa)
3.      Dermatitis seboroika.

f.       Penatalaksanaan.
Pengobatan bertujuan memusnahkan semua kutu dan telur serta mengobati infeksi sekunder. Pengobatan yang dianggap baik ialah malathoin 0,5% atau 1% dalam bentuk losio atau spray, tetapi sukar didapat. Cara pemakaian : malam sebelum tidur cuci rambut dengan sabun kemudian oleskan losio malathion dan tutup kepala dengan kain. Keesokkan harinya cucui rambut dengan sabun lalu sisir dengan serit (sisir halus dan rapat). Pengobatan dapat diulangi lagi seminggu kemudian jika masih terdapat kutu atau telur.
Obat yang mudah didapat dan cukup efektif ialah krim gameksan 1%. Cara pemakaian : oleskan merata pada tiap helai rambut dan diamkan selama 12 jam, cuci dan sisir rambut dengan serit agar semua kutu dan telur terlepas. Jiak msih terdpat telur, seminggu kemudian ulangi dengan cara yang sama. Obat lain ialah emulsi benzil benzoat 25%, dipakai dengan cara yang sama.
Pada keadaan infeksi sekunder berat sebaiknya rambut dicukur, diobati dengan antibiotik sistemik dan topikal, lalu disusul dengan obat kutu dalam bentuk sampo. Hygiene merupakan syarat supaya tidak terjadi residif.

2.      Pedikulosis Korposis
a.      Pengertian.
Infeksi kulit disebabkan oleh Pediculus humanus var. corporis. Penyakit ini biasanya menyerang orang dewasa terutama pada orang dengan hygiene yang buruk, misalnya penggembala, disebabkan mereka jarang mandi atau jarang mengganti dan mencuci pakaian. Maka itu penyakit ini sering disebut penyakit vagabound. Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi pada serat kapas disela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk menghisap darah.
Penyebaran penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim dingin karena orang memakai baju yang tebal dan jarang dicuci. Cara penyebaran dapat melalui pakaian maupun kontak langsung. Pada orang yang dadanya berambut terminal kutu ini dapat melekat pada rambut tersebut dan dapat ditularkan.

b.      Etiologi
Pediculus humanus var. corporis mempunyai 2 jenis kelamin, yaitu jantan dan betina, yang betina berukuran panjang 1,2-4,2 mm dan lebar kira-kira setengah panjangnya, sedangkan yang jantan lebih kecil. Siklus hidup dan warna kutu ini sama dengan yang ditemukan pada kutu kepala.

c.       Patofisologi
Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal ini disebabkan oleh liur dan ekskreta dari kutu pada waktu menghisap darah.

d.      Manifestasi Klinis
Daerah kulit yang terutama terkena adalah bagian yang paling terkena pakaian dalam ( leher, badan, dan paha ). Kutu badan terutama hidup dalam pelipit pakaian dan ditempat ini, kutu melekat erat sementara menusuk kulit penderita dengan probosisnya. Gigitan kutu menyebabkan titik-titik pendarahan yang kecil dan khas. Ekskoryasi yang menyebar luas dapat terlihat sebagai akibat dari rasa gatal dan perbuatan menggaruk yang intensif, khususnya pada badan serta leher. Diantara lesi sekunder yang ditimbulkan terdapat guratan linier garukan yang paralel dan ekzema dengan derajat ringan. Pada kasus yang menahun, kulit pasien menjadi kebal, kering dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap.

e.       Pemeriksaan Penunjang
Menemukan kutu dan telur pada serat kapas pakaian.

f.       Diagnosis Banding
Neurotic excoriation.

g.      Penatalaksanaan
Pengobatannya ialah dengan krim gameksan 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu mandi. Jika belum sembuh diulangi 4 hari kemudian. Obat lain ialah emulsi benzil benzoat 25% dan bubuk malathion 2%. Pakaian direbus atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu. Jika terdapat infeksi sekunder, obati dengan antibiotik secara sistemik dan topikal.

3.      Pedikulus Pubis
a.      Definisi
Pedikulus pubis ini ialah infeksi rambut didaerah pubis dan disekitarnya oleh Phthirus pubis. Pedikulus pubis dulu dianggap Phthirus pubis secara morfologi sama dengan Pediculus, maka itu di namakan juga Pediculus pubis. Tetapi ternyata morfologi keduanya berbeda, Phthirus pubis lebih kecil dan lebih pipih.
Penyakit ini mengenai orang dewasa dan dapat digolongkan dalam PMS serta dapat pula mengenai jenggot dan kumis. Infeksi ini juga dapat terjadi pada anak-anak, yaitu di alis dan bulu mata (misalnya blefaritis) dan pada tepi batas rambut kepala. Cara penularan umumnya dengan kontak langsung.

b.      Etiologi
Penyebab penyakit ini ialah Phthirus pubis. Kutu ini mempunyai 2 jenis kelamin, yang betina lebih besar dari pada jantan, panjangnya sama dengan lebar ialah 1-2 mm.

c.       Patofisiologi
Gatal yang timbul sama dengan proses pada pedikulosis yang lainnya. Patofisiologi dapat dilihat pada skema 2.3
Agen


 
Transmitter
 
Kontak langsung/kontak tidak langsung
 
host
 

Menyerang kulit badan dan pubis
 

Menggigit dan menghisap darah


 
Liur dan eksreta melekat pada kulit


 
Gatal
 

Gangguan pola tidur


 


Bercak-bercak kemerahan dan keabuan pada kulit badan d an pubis
 

Gangguan body image

 
          
Skema Patofisiologi Pedikulosis Korporis dan Pubis 2.3

d.      Manifestasi Klinis
Gejala utama adalah gatal di daerah pubis dan di sekitarnya, dapat meluas sampai ke abdomen dan dada, dijumpai bercak-bercak yang berwarna abu-abu atau kebiruan yang disebut sebagai makula serulae. Kutu ini dapat dilihat dengan mata biasa dan susah untuk dilepaskan karena kepalanya di masukkan ke dalam muara folikel rambut.
Gejala patogenomonik lainnnya adalah black dot, yaitu bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam berwarna putih yang terlihat saat bangun tidur. Bercak hitam ini merupakan krusta yang berasal yang sering di interprestasikan salah sebagai hematuria. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.

e.       Pemeriksaan Penunjang.
Menemukan telur atau kutu dalam bentuk dewasa.

f.       Diagnosis Banding
Ø  Dermatomikosis
Ø  Dermatitis seboroika

g.      Penatalaksanaan
Pengobatannya sama dengan pengobatan pedikulosis korporis, yaitu krim gameksan 1% atau emulsi benzil benzoat 25% yang dioleskan dan didiamkan selama 24 jam. Pengobatan diulangi 4 hari kemudian, jiak belum sembuh. Sebaiknya rambut kelamin dicukur, pakaian dalam direbus atau disetrika. Mitra seksual harus pula diperiksa dan jika perlu di obati.








BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN SKABIES DAN PEDIKULOSIS
3.1  Pengkajian
1.      Identitas klien
Indentitas terdiri dari nama, jenis kelamin, agama, suku, pekerjaan, status, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no bed, nama ruangan dan diagnosa medis.
2.      Riwayat Kesehatan
a.       Keluhan saat didata.
Klien merasakan gatal, ketidaknyaman pada kulit, tidak bisa tidur akibat gatal yang dirasakan. Kulit klien tampak kemerahan, terdapat ulkus dan erosi.
b.      Riwayat kesehatan masa lalu
Tidak menjaga kebersihan badan, rambut dan pubis ( personal hiygine yang buruk )
c.       Data sosial
Hubungan klien dengan keluarga dan perawat baik tetapi hubungan  dengan masyarakat kurang baik karena klien merasa malu akibat penyakit yang diderita.
d.      Data biologis
Ø  Nutrisi
Penderita tidak nafsu makan akibat penyakit yang diderita.
Ø  Istirahat tidur
Penderita  kurang tidur akibat rasa gatal  yang diderita
Ø  Eliminasi
Pola eliminasi  teratur.
Ø  Personal hygnies.
Personal hygnies klien buruk.
Ø  Pola aktifitas.
Aktivitas terhambat akibat penyakit yang diderita.
Ø  Pemeriksaan Fisik
·         Keadaan umum:  keadaan umum klien lemah
·         Kesadaran: composmetis
·         Kulit: Pada klien dengan skabies, terdapat terowongan dan di ujungnya ada papul dan vesikel pada daerah-daerah tertentu.
·         Turgor kulit tidak elastis, membrane mukosa dan kulit kering, kulit terasa kasar.
·         Kulit  kepala: Pada klien Pedicolosis ditemukan telur-telur dirambut pada oksiput terdapat kurang dari 10 ekor kutu dewasa dan ditemukan impetigo sekunder dan furunkulosis.
·         Badan:  pada penderita pedicolosis terlihat bekas garukan   sejajar,  perubahan-perubahan urtikaria, papula erithematosa yang awet, lesi tampak jelas
·         Pubis: Pada penderita pedicolosis rambut pubis didapatkan phthirus pubis dan ditemukan noktah-noktah hitam kecil yang merupakan titik-titik darah dan terdapat dalam jumlah banyak.

3.2  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada klien skabies dan pediculus yaitu:
1.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya erosi
2.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan primer yang tidak baik.
3.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritas/gatal.
4.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder.







3.3  Perencanaan Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Rencana Intervensi
Rasional
1














2.















Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya erosi







Resiko infeksi berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan primer
Tidak terjadinya gangguan integritas kulit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kreteria hasil:
Integritas kulit membaik ditandai dengan tidak tampak terjadinya erosi


Mengindentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kreteria hasil:
Tidak terjadi infeksi dengan tidak adanya tanda-tanda infeksi
1.      Anjurkan  kepada klien untuk berhenti menggaruk

2.      Jaga agar kuku selalu terpangkas

3.      Kolaborasi pemberian obat topical


1.            Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan
2.            Lakukan pemakaian kompres basah seperti yang diprogramkan untuk mengurangi intensitas inflamasi



3.            Kolaborasi pemberian antibiotik
1.      Menggaruk bisa menyebabkan erosi pada kulit
2.      Pemotongan kuku akan mengurangi kerusakan kulit karena garukan
3.       Menghilangkan erosi pada kulit


1.      Demam dapat terjadi karena adanya infeksi
2.      Kompres basah akan menghasilkan pendinginan lewat pengisapan yang menimbulka vasokonstriksi pembuluh darah kulit dengan demikian akan mengurangi eritema serta produk serum
3.      Pencegahan terjadinya infeksi


3.
Gangguan pola tidur berhubungan dengan gatal yang
Dirasakan
Kebutuhan istirahati tidur dapat terpenuhi setelah dilakukan tindakan 2x24 jam dengan kreteria hasil:
Klien mencapai tidur yang nyenyak
1. Lakukan pengkajian masalah gangguan tidur klien, krakteristik, penyebab gangguan tidur
2. Siapkan tempat tidur, batal dan selimut yang nyaman dan bersih
3. Hindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur
4. Kolaborasi pemberian obat antihistamin
1.      Memberikan informasi dasar dalam menentukan intervensi keperawatan

2.      Meningkatkan kenyamanan saat tidur

3.      Kafein menghilangkan rasa ngantuk

4.       Mengurangi rasa gatal
4
















Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder




Tidak terjadi gangguan citra tubuh
Setelah dilakukan tindakan  keperawatan selama 3x24 jam dengan kreteria hasil:
1.      klien dapat menerima keadaan dirinya
2.      klien tidak malu bersosialisasi dengan orang lain
1.      Kaji psikososial perkembangan klien



2.      Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan tentang perubahan citra tubuh
3.      dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri
4.      Beri nasehat kepada klien mengenai cara-cara perawatan kosmetik untuk menyembuyikan kondisi kulit yang abnormal, mendorong sosialisai dengan orang lain, dan bantu pasien kearah penerimaan diri
1.      Terdapat hubungan antara psikososial perkembangan, citra diri, reaksi, serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya
2.      Pasien memerlukan pengalaman didengarkan dan dipahami

3.      Meningkatkan penerimaan klien terhadap dirinya
4.      Pendekatan dan sasaran yang positif sering kali membantu klien dalam peningkatan penerimaan diri dan sosialisasi








3.4  Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah langkah terakhir dalam proses keperawatan dimana pada tahap ini perawat mempertimbangkan efektif tidaknya tindakan yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Evaluasi yang dapat dilakukan pada implamentasi keperawatan diatas yaitu:
a.       Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya erosi, Integritas kulit klien membaik, tidak terdapat ulkus dan erosi.
b.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer, Tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
c.       Gangguan pola tidur berhubungan dengan gatal yang dirasakan, Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi, klien dapat tidur dengan nyenyak dan rasa gatal berkurang atau hilang.
d.      Gangguan body image yang berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder, Klien dapat menerima keadaan diri dan tidak malu untuk bersosialisasi kepada orang lain
















BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

Jenis Penyakit
Definisi
Etiologi
Manifestasi
Penatalaksanaan
Skabies
Skabies (The itch, budukan, gatal agogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, hominisi dan produknya.
Pada manusia disebut Sarcoptes scbiei var. hominis. Kecuali itu terdapat S. Scabiei yang lain, misalnya kambing dan babi.
1.        Pruritus (gatal pada malam hari).
2.        Penyakit ini menyerang manusia secara. Berkelompok
3.        Kunikulus (adanya). Terowongan
4.        Menemukan tungau satu atau lebih.
1.      Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20 %
2.      Emulsi benzil-benzoat 20-25 %
3.      Gama benzena heksaklorida
4.      Benzilbenzoat (krotamiton)
5.      Permethrin
Pedikulosis
Pedikulosis adalah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculus (tergolong famili Pediculidae).
1.    Pediculus humanus var. capitis.
2.    Pediculus humanus var. corporis.
3.    Pediculus pubis.
1.      Gejala awal berupa gatal, terutama pada daerah oksiput dan temporal serata dapat meluas ke seluruh kepala.
2.      Kadang-kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional.
3.      Gejala patognomonik lainnnya adalah black dot.
1.      Malathoin 0,5% atau 1% dalam bentuk losio atau spray.
2.      Gameksan 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam.
3.      Gameksan 1% atau emulsi benzil benzoat 25% yang dioleskan dan didiamkan selama 24 jam.


4.2  SARAN
1.      Untuk Perawat
Perawat harus bisa memahami bagaimana cara menangani klien dengan penyakit skabies dan pedikulosis, dan melakukan pengkajian.
2.      Untuk instansi
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.
3.      Untuk klien dan keluarga
Perawatan tidak kalah pentingnya dibanding dengan pengobatan, sebab bagaimanapun teraturnya pengobatan yang diberikan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak akan tercapai. oleh sebab itu perlu adanya penjelasan baik pada klien maupun keluarganya mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan.
4.      Untuk Mahasiswa.
Mahasiswa harus bisa mengetahui konsep dasar penyakit skabies dan pediculus  dan asuhan keperawatan untuk menangani dan mencegah.
5.      Masyarakat
Agar masyarakat bisa memahami gejala dan pencegahan pada penyakit skabies dan pediculus










DAFTAR PUSTAKA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Muhammad Ihwan mengatakan...

wahhh keren ....

Poskan Komentar